Postingan

Tentang Blog Ini

Sesuai namanya, blog ini dibuat untuk menumpahkan apa yang ada di pikiran saya, baik pengetahuan, opini, ide, maupun persepsi saya mengenai berbagai macam hal yang saya amati di dunia di sekeliling saya. Tulisan-tulisan saya tidak akan panjang lebar. Saya lebih cenderung pada tulisan-tulisan pendek yang menjadi pemicu pembacanya untuk teringat sesuatu atau memantik keingintahuan untuk mencari/menggali suatu topik lebih dalam lagi. Saya hanya menulis topik-topik yang saya ketahui, pelajari, dan senangi, dari sudut pandang dan pengalaman pribadi. Juga topik-topik yang terkait dengan jati diri saya sebagai pribadi. Berikut sebagian tema dari topik-topik yang dapat pembaca expect dari blog ini: kampung halaman dan suku saya (Sulawesi Utara), marga, keluarga, dan kerabat saya, cerita perjalanan atau perantauan saya, berbagai aspek dan praktik agama saya (Islam), sejarah dunia, sejarah subyek tertentu, common senses , linguistik, beberapa bahasa yang saya pelajari/kuasai, neu...

Pernafasan Perut

Salah satu pesan Nabi Muhammad ialah membagi perut kita menjadi 3 bagian: 1 untuk makanan, 1 untuk minuman, 1 untuk udara/nafas. Pernafasan perut sangat lah penting. Ketika manusia mengarahkan nafasnya ke titik tiga inci di bawah perut, organ-organ dalamnya terpijat, otot-otot tensegritasnya aktif berpadu, otaknya menerima limpahan oksigen, qi, ki, prana, energi alam semesta, apa saja nama yang dikasih orang untuk itu. Pernafasan perut adalah salah satu kunci menuju hidup yang sehat dan seimbang, tubuh yang kuat dan energik, serta pikiran yang bangun dan waspada. Untuk menguasainya tidak mudah. Bayi manusia menggunakan pernafasan perut ini, namun melupakannya ketika beranjak dewasa.  Dalam pengalamanku ada tiga tahap menuju pernafasan perut: 1. Tahap mengembang kempiskan rongga perut, ketika menarik nafas perut dikembangkan, ketika membuang nafas perut dikempiskan. 2. Tahap menarik ulur otot anal spinchter (titik hui yin dalam akupunktur), ketika menarik nafas hu...

Tentang Kata

Pernah kalian melihat peta? Di peta ada gambar dan simbol juga label untuk memberikan gambaran mengenai suatu tempat yang diwakili oleh peta. Namun peta itu sendiri bukan tempat yang diwakilinya. The map is not the territory . Begitu kata para pakar NLP (googling sendiri!). Pikiran manusia yang maha dahsyat itu berbeda dari pikiran hewan, karena satu hal fundamental: manusia berpikir dan memandang dunia dengan kata dan rangkaian kata. Dengan kata-kata, pikiran manusia mampu memberi label, mengkategorikan, memisahkan, menyatukan, menghubungkan, menempatkan, meringkas, merangkum berbagai macam konsep mengenai hal yang kongkrit maupun yang abstrak. Pikiran manusia terbentang seperti peta. Kata-kata bertindak sebagai simbol dan label yang saling berhubung, berjalinan, dan bertautan. Selama hidupnya manusia terus belajar, mengumpulkan kata. Membentuk perpustakaan kata pribadi. Terkadang manusia merevisi sifat hubungan atau membuat jembatan hubungan baru antar kata. Demi apa semua ...

Matematika Teamwork

Jika kemampuan individual diukur dengan skala: 1 = biasa-biasa saja 2 = mahir 3 = ahli maka kerjasama yang sinergis antara 3 orang dengan skill yang sama: 1 + 1 + 1 = 5 2 + 2 + 2 = 18 3 + 3 + 3 = 27 namun bila kerja mereka tidak sinergis maka: 1 + 1 + 1 = 1 2 + 2 + 2 = 2 3 + 3 + 3 = 3 Tim yang sinergis mampu memberikan hasil berlipat ganda, lebih efektif dan efisien. The result is greater than the sum of its parts . Sedangkan tim yang tidak sinergis, tidak mampu berkoordinasi dengan harmoni, biasanya karena ego masing-masing yang terlalu besar, tidak akan mendapatkan hasil maksimal. Malah teamwork menurunkan efektifitas dan efisiensi kinerja mereka. Itu lah realita yang saya amati. Renungkan lah.

Tujuan Hidup

Hewan ternak hidup untuk digemukkan kemudian diambil daging, susu, atau bagian tubuhnya yang lain. Serangga dan cacing hidup untuk menyuburkan tanah dan membantu tumbuhan berkembang biak. Hewan karnivora hidup untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Lalu untuk apa manusia hidup dibumi ini? Banyak manusia yang tidak punya tujuan hidup. Mereka hanya ingin memuaskan kesenangan inderawi mereka saja. Karena itu lah yang paling dekat, hanya itu yang paling mereka tahu. Maka jatah hidup mereka digunakan untuk mengejar harta benda, ketenaran, kekuasaan, kesenangan jasmaniah, dsb. Di sisi ekstrim yang lain, ada manusia yang memilih menjalani hidup penyendirian (asketisme). Bosan dengan keduniawian sehingga tidak acuh lagi terhadap dunia, terhadap manusia. Adapun orang Islam -termasuk saya- diajari bahwa tujuan hidup ini adalah beribadah kepada Allah, Tuhan Semesta Alam. Ada yang memahami ibadah yang dimaksud ialah shalat, puasa, zakat, dzikir, baca Qur'an, dsb., pendeknya ibad...

Nilai Diri

Nilai diri manusia tidak ditentukan dari apa yang dipunyainya. Namun... nilai diri manusia sejatinya ditentukan dari apa yang ia perbuat dengan apa yang ada padanya. Apa yang dipunyai mudah datang dan pergi. Nisbi. Namun... apa yang dilakukan selalu diikuti konsekuensi. Konsekuensi mengubah kehidupan, lingkungan, bahkan zaman, ke arah yang lebih baik atau lebih buruk. Pendeknya, konsekuensi membekas, sekecil apa pun, sesingkat apa pun. Jadi, jangan bangga dengan apa yang berlimpah di sisimu sekarang. Bisa jadi ia pergi sebelum mata sempat berkedip. Berusaha lah untuk berbuat, mewariskan perubahan positif, apa pun itu, dengan apa saja yang kita punya. Aset (harta, waktu, energi, relasi, dll.) kita yang melimpah tidak ada artinya tanpa dampak nyata.